Wajah Suram Pendidikan
Posted by Noor Hadi Widyana
Betapa mirisnya hati saya ketika hari ini seorang nasabah (saya kira tak usahlah disebutkan namanya, takut tersinggung nanti dia) datang menemui saya dan mengadu. "Pak mohon maaf, saya bulan ini tidak bisa setor, soalnya keuntungan usaha saya menurun. Modal saya habis Pak", dengan wjah sendu dia bercerita. Saya kaget. "Lho, kenapa Bu?". Kemudian dia cerita, bahwa modalnya habis untuk biayai anaknya masuk sekolah. "Habis untuk baju, buku, sepatu, uang sekolah, uang pendaftaran, uang praktek, uang bangunan, Pak, totalnya habis 7.5 juta untuk biayai dua anak saya, satu SMA, satu lagi SMP" saya tanya lagi, apa tidak ad keringanan, atau setidaknya bisa dicicil? Pinjaman aja bayarnya dicicil. Dia bilang lagi, sambil mukanya menegang menahan geram dan marah, "Itulah Pak, saya juga ga ngerti, saya sendiri guru, saya ga pernah berbuat kaya gitu, coba Bapak pikir, anak saya, karena ga beli baju di sekolah sebelum masuk kelas, dipanggil oleh BP3, dimarahin, dibilang tidak punya ras menghargai sekolah. Begitu masuk kelas, karena tidak beli buku di gurunya, dikeluarkan, ga bleh ikut belajar, terus Pak, begitu upacara, nama-nama yang belum bayar iuran pembangunan diumumkan, disuruh maju. Sakit hati saya Pak. Makanya daripada anak saya gak mau sekolah, saya terpaksa gunkan modal usaha saya"
Saya betul-betul terhenyak. Kok sampai segitunya? Apa yang sekolah tersebut lakukan -dan memang benar, karena saya pastikan sendiri- adalah proses pembodohan, pemandulan kreatifitas dan penghancuran bibit-bibit penerus bangsa. Tak heran korupsi terus merajalela dan bangsa kita terus diperbudak, karena faktor pembentuk karakter paling besar, yaitu lingkungan, telah diset sedemikian rupa, sehingga para penerus bangsa sejak awal telah diajarkan bahwa uang adalah segalanya, kekuasaan adalah mutlak dan kreatifitas adalah tabu.
Kemudian saya kembali berdiskusi, tentang program pemerintah, tentang BOS, tentang buku murah. Ternyata, di lapangan, dampak nyata dari program-program tersebut hampir tidak ada. Atau juga disengaja agar tidak berdampak.
Mengapa hal tersebut diatas terjadi? Apa para guru penghasilannya kurang? Saya rasa tidak, karena orangtua saya pun guru SD. Saya merasakan sendiri bagaimana kehidupan seorang guru dan keluarganya. Lalu karena apa?
Dari pengamatan saya, mungkin gaya hidup yang saat ini saya lihat semakin hedonislah penyebabnya. Beragam fasilitas belanja mudah, terutama lewat angsuran menjadikan mereka seakan berlomba menumpuk materi. Dan pada akhirnya menumpuk beban.
Mari kita kembali pada hati nurani kita. Kisah diatas besar kemungkinan terjadi pada banyak orang. Apa kita akan diam saja?
Ps: Saat ini, saya dan beberapa orang rekan sedang merintis pembagian buku murah. Buku-buku tersebut dapat diunduh di situs Depdikbud. Cara yang kami lakukan adalah membagikan buku-buku tersebut dalam bentuk apapun, baik soft copy maupun hard copy dengan gratis. Bagi anda mungkin uang Rp. 5000,- tidak berarti banyak. Tapi dengan itu kita bisa memberikan seratus sampai dua ratus halaman buku. Ada ide lain?Saatnya kini kita bertindak. Sudah cukup lama kita berdiam diri.
