Pengajuan Kredit Modal Kerja
Posted by Noor Hadi Widyana
Seringkali dalam wawancara dengan calon nasabah, saat sampai ke pertanyaan "Dalam rencana bisnis anda, berapa tambahan modal yang anda perlukan?", calon nasabah tampak kebingungan. Sebagian ada yang menjawab "Terserah Bank mau ngasih berapa", sebagian lagi menjawab "Ya.... pengennya sih sekitar segitu deh", dan sebagian lagi hanya tersipu-sipu.
Hal tersebut cukup menyulitkan bagi saya, karena bila pemilik bisnis tidak mengetahui perkiraan kebutuhan modalnya, apalagi saya yang notabene adalah orang luar dalam bisnis mereka.
Maka berdasarkan hal di atas, saya coba merangkum beberapa prinsip pokok dalam pemberian kredit. Memang setiap Bank mempunyai kebijakan masing-masing namun mudah-mudahan rangkuman ini dapat membantu.
1. Ketahuilah batas kemampuan membayar anda.
Nyawa utama kredit adalah kemampuan membayar kewajiban jangka pendek. Dasar dari kemampuan tersebut adalah ukuran bisnis anda saat ini, bukan yang akan datang. Katakanlah bila saat ini ukuran bisnis anda telah menghasilkan laba bersih tiap bulan Rp. 1.5 juta, maka pasti anda akan mampu menikmati kredit sekitar Rp. 100 - 120 juta. Selain itu usaha anda pasti akan berkembang. Kenapa? Karena saat anda diberikan kredit Rp. 100 juta, kredit itu akan tertanam seluruhnya secara optimal dalam bisnis anda.
Sebaliknya bila anda mendasarkan kebutuhan kredit pada ukuran bisnis yang akan datang maka siap-siaplah menjadi jongos bagi Bank. Contohnya begini:
Bapak Badu, memiliki usaha warung sembako. Keuntungan bersih perbulan sekitar Rp. 2 juta. Karena ingin berkembang, maka Bapak Badu mengambil kredit modal kerja sebanyak 150 juta dengan cicilan perbulan Rp. 1,8 juta.
Karena mendapat tambahan modal Rp. 150 Juta, penghasilan Bapak Badu bertambah menjadi Rp. 4 juta per bulan. Sehingga selain bisa mencicil pinjaman tiap bulan, Bapak Badu juga bisa mengembalikan keuntungannya dalam usaha sehingga usahanya terus berkembang.
Tetangga Bapak Badu, yaitu Bapak Amir, terkesan oleh kesuksesan Bapak Badu. Ia mempunyai toko bahan bangunan. Penghasilan bersihnya Rp. 1 Juta per bulan. Ia kemudian mengajukan pinjaman Rp. 200 juta dengan cicilan Rp. 2,3 Juta per bulan. Usahanya berkembang, sehingga pendapatan bersihnya menjadi Rp. 2,5 juta per bulan. Namun karena keuntungannya habis untuk membayar pinjaman maka usahanya menjadi stagnan, diam di tempat. Perkembangan usahanya terhenti karena Ia tidak dapat menanamkan keuntungan ke usahanya. Keuntungannya habis untuk Bank.
Mudah-mudahan ilustrasi di atas bisa menjabarkan maksud saya. Kembali ke masalah kemampuan membayar, bagaimana cara yang efektif, untuk mengetahuinya?
Secara sederhana, anda bisa menghitungnya dengan cara :
Omzet penjualan dikurangi
Modal dasar dikurangi
Biaya-biaya (gaji, transport, listrik, air, sewa, dsb) dikurangi
Kebutuhan hidup (anda juga perlu makan toh?)
Hasil akhir dari perhitungan di atas itulah, sejatinya menggambarkan kemampuan membayar anda. (tentu saja, kejujuran anda amat berperan dalam menghitung hal tersebut)
Bila angka tersebut telah anda dapatkan, silakan hubungi pihak perbankan untuk mengetahui berapa pinjaman yang bisa anda tanggung.
2. Ketahui rencana anda.
Pada dasarnya, nilai pinjaman itu tidak akan berubah, hanya wujudnya yang berubah, dari gepokan kertas menjadi barang, bangunan, piutang dsb. Pebisnis yang handal akan selalu tahu perubahan wujud tersebut. Sebaliknya pebisnis karbitan tidak tahu, atau tidak mau tahu atau lebih parah lagi pura-pura tidak tahu, perubahan wujud dari modalnya tersebut.
Maka, demi kelancaran pinjaman anda, rencanakanlah dengan baik penggunaan kredit. Bila akan digunakan untuk menambah stok barang, tambahalah hanya barang yang laku. Bila akan digunakan untuk menambah piutang, tanamkanlah pada piutang yang produktif. Jangan sampai anda menjebloskan diri sendiri ke dalam masalah.
Contoh sederhana dari rencana penggunaan kredit misalnya:
A. Pembelian barang x Rp. n
B. Pembelian barang y Rp. n
C. Cadangan tunai Rp. n
Total Rp. n.
Sehingga selain modal anda terkontrol, anda tidak akan mengalami tambahan beban akibat kredit yang terlalu berlebih.
Mudah-mudahan tips di atas dapat membantu anda, sehingga dalam mengajukan kredit, anda tidak kesulitan lagi.
Selain tips di atas, beberapa tips di bawah ini juga mungkin akan membantu :
1. Agunkanlah rumah anda, hal ini bukan saja menunjukkan bukti keseriusan usaha anda, namun juga akan menambah semangat anda dalam melunasi kredit.
2. Segera sertifikatkan aset-aset anda. Bukan hanya salah satu persyaratan pengajuan kredit namun juga menjaga hak kepemilikan anda atas aset tersebut.
3. Buat rencana yang matang.
4. Jangan sungkan berdiskusi dengan petugas kredit, sudah jadi tugas kami untuk membantu anda.
5. Jangan menyandarkan sepenuhnya rencana bisnis anda pada kredit.
6. Jangan menyembunyikan sesuatu, terutama pada saat wawancara. Aktiflah menjabarkan bisnis anda, hal ini merupakan faktor penambah nilai di mata petugas kredit.
7. Jagalah kelengkapan identitas baik pribadi maupun usaha, termasuk masa berlakunya.
Selamat mencoba, mudah-mudahan berguna.
