Politicians ? Majority SUCKS!  

Posted by Noor Hadi Widyana

Mencermati kericuhan menjelang Pemilu 2009, baik Pemilihan Legislatif maupun Eksekutif, kadang membuat saya terkikik geli, tapi seringnya sih tersedak mual dan gondok setengah mati.
Betapa tidak, pemborosan waktu, tenaga, dan terutama biaya begitu terlihat. Dari kumpul-kumpul demi membuat jaringan, pembuatan perlengkapan kampanye yang ngujubile sampai money politics dan kebohongan publik demi memoles citra.
Sebetulnya sih, tidak begitu merugikan, toh kegiatan sosial yang dilakukan untuk kepentingan penarikan suara itu juga dinikmati rakyat, terutama masyarakat kecil, kilah seorang caleg, ketika saya tanya tentang kerugian kampanye.
Namun dari dulu, ada beberapa hal yang menarik minat saya.
Pertama, Dari mana asal dana kampanye? Dari yang saya perhatikan, peserta kampanye yang dananya 'kuat' ada dua golongan. 1. Pengusaha yang terjun ke Politik dan 2. Pejabat yang ingin memperpanjang masa jabatannya. Saya tidak ingin berburuk sangka tapi secara logika bisa kita cermati bahwa rata-rata pengusaha pasti berpikir secara bisnis, mereka mengeluarkan uang untuk mendapatkan keuntungan baik materil maupun imateril dan menurut saya ini yang membuat mereka adalah politisi yang buruk karena pasti kebijakan yang mereka buat adalah kebijakan yang pertama-tama pasti menguntungkan diri sendiri, lalu rekan bisnis baru masyarakat. Golongan kedua juga sama saja, mereka justru ingin memperpanjang keuntungan yang kini sedang mereka nikmati.
Dan akhirnya, sudah dapat dipastikan bahwa jika terpilih mereka akan terlebih dahulu menutupi modal kampanye, selanjutnya, entah tapi biasanya memperkaya diri.
Yang kedua, apa motivasi mereka? Pelayanan publik? Mencari nama? Atau memperkaya diri? Jawaban terakhir itu yang sering saya dapatkan apabila berbincang dengan para calon, baik secara tersirat maupun blak-blakan.
Sering saya berpikir, kenapa sih gaji para wakil rakyat begitu besar? Ditunjang dengan fasilitas yang mewah pula. Padahal menurut saya pemerintah dapat menghemat puluhan milyar. Beri saja mereka gaji yang wajar menurut standar jabatan pegawai negeri, atau jangan digaji sekalian, toh, rumah diberi, mobil diberi, bensin dijatah, ada uang reses, listrik, telepon, internet juga gratis. Apa lagi coba? Hal ini juga bisa menjadi bahan ujian bagi keseriusan mereka menjadi wakil rakyat.
Yang ketiga, who the hell they are? Saat ini saja dari banyak poster caleg, 90%nya saya tidak kenal, setelah cari info sana-sini ternyata mereka adalah orang yang bukan lahir di daerah pemilihannya, tidak pula dibesarkan di daerah pemilihannya juga tidak pula memberikan kontribusi apapun, hanya semata-mata daerah tersebut adalah lumbung suara partai yang ditungganginya.
Itulah beberapa sebab saya benci politisi. Karena di mata saya mereka hanya lintah darat, pemberi janji palsu dan penipu. Dan oleh karena itu, saat ditanya siapa yang saya pilih nanti, saya akan jawab saya golput. Karena bukan tidak ingin berpartisipasi namun memang tidak ada yang bisa saya pilih.
Siapa yang saya akan pilih :
1. Calon yang setelah kampanye usai membersihkan SENDIRI bukan minta para Tukang Sampah, sampah-sampah sisa kampanye dan meminta maaf kepada masyarakat karena sudah bikin kotor fasilitas umum.
2. Calon yang keuangannya jelas.
3. Calon yang berani mengajukan usulan pengurangan gajinya sendiri.
4. Calon yang berpendidikan, mau kerja, mau belajar, mau diajari, mau mendengarkan.
5. Calon yang tidak minta perlakuan khusus, terutama di jalan raya.
Apa mustahil ada calon seperti ini? Apa permintaan saya terlalu tinggi?

0 comments

Post a Comment

Current News

Loading...

Contributors

My Photo
Seorang yang disebut orang lain bankir, akan tetapi lebih senang menganggap dirinya adalah seorang pegawai sederhana, yang paling dicari ketika awal bulan dan paling dihindari pada akhir bulan.

Categories